menunda lelap untuk tak bermimpi.. tentang mimpi yg tlah menipu pemiliknya sendiri. seperti mati namun masih bernyawa.. layaknya redup tapi ia bersinar.. seakan ada namun tiada..
ia tertawa merahasiakan duka~
Sabtu, 11 Juli 2015
darah
percikannya kali ini benar-benar mengakrabkan luka,memusnahkan tawa.. rinainya membawa potongan-potongan rindu yang semakin membatu.. sejuta luka kembali menerpa~
pendam
Ketika tak ia lihat, ia mencari-cari.. ketika tak ia rasakan, ia bertanya-tanya.. tak ia lihat keberadaan dan rasakan kehadiran jiwa yg ingin matanya dekap.. disetiap denyutan nadi ia menanti.. dibawah redupnya cahaya bulan ia bercerita pada bayangan semu.. bersandar pada deru ombak-ombak bisu yg sedari tadi sedang berkejaran.. tak sampai lidahnya mengungkapkan, hanya tertahan pada pandangan mata yang semakin hari semakin dalam..
Kamis, 07 Mei 2015
Kamis, 23 April 2015
tetesan rindu
Kau terbiasa mengingat jalanan yg dikelilingi tarian hijaunya pepohonan..
Kau larut dalam cahaya kerlap-kerlip kunang-kunang..
Kau terlalu senang pada garis putih diatas aspal yg hitam..
Kau candu menghirup wangi angin yg menyejukkan..
Kau berbicara pada gumpalan merah marun punyamu sendiri.. dan tanpa kau sadari terlalu banyak kau tumpahkan rindu pada jalanan yg tlah kau lalui.. Kau (aku)
Kau larut dalam cahaya kerlap-kerlip kunang-kunang..
Kau terlalu senang pada garis putih diatas aspal yg hitam..
Kau candu menghirup wangi angin yg menyejukkan..
Kau berbicara pada gumpalan merah marun punyamu sendiri.. dan tanpa kau sadari terlalu banyak kau tumpahkan rindu pada jalanan yg tlah kau lalui.. Kau (aku)
Langganan:
Postingan (Atom)