bak menapaki jalanan kerikil tanpa sepatu..
decakan darah memenuhi telapknya..
garis-garisnya membekas hingga akhir nafas..
namun sisa merah pada jalanan lekas lenyap dibawa air langit..
ia seolah mengenang sendirian.. merindu tunggal tanpa balasan.
o :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar